EBTKE—Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki wilayah laut terbesar. Sekitar dua per tiga wilayah Indonesia adalah laut. Indonesia memiliki pantai kedua terpanjang di dunia setelah Kanada, dimana panjang pantai Indonesia sekitar 80.000 kilometer (Km) dan luas lautnya adalah sekitar 52 juta km2.
Gelombang tercipta terutama akibat hembusan angin di permukaan laut. Selama ada perbedaan suhu udara disuatu daerah dengan dengan daerah lainnya akan menimbulkan angin yang membentuk gelombang jika melewati laut dan setiap lokasi kekuataannya bervariasi.
Daerah samudera Indonesia sepanjang pantai selatan Jawa sampai Nusa Tenggara adalah lokasi yang memiliki potensi energi gelombang cukup besar berkisar antara 10-20 kW per meter gelombang, bahkan beberapa penelitian menyimpulkan bahwa energi gelombang di beberapa penelitian menyimpulkan bahwa energi gelombang di beberapa titik di Indonesia bisa mencapai 70 kW per meter di beberapa lokasi.
Karakteristik energi gelombang sangat sesuai untuk memenuhi kebutuhan energi kota-kota pelabuhan dan pulau-pulau terpencil di Indonesia. Sayangnya, pengembangan teknologi pemanfaatan energi gelombang di Indonesia saat ini masih belum optimal namun cukup menjanjikan. Pantai barat pulau Sumatera bagian selatan dan pantai selatan pulau Jawa bagian barat berpotensi memiliki energi gelombang laut sekitar 40 kW per meter. Meskipun penelitian untuk mendapatkan teknologi yang optimal dalam mengkonversi energi gelombang laut masih terus dilakukan, saat ini ada beberapa alternatif teknologi yang dapat dipilih. Alternatif teknologi yang diprediksikan tepat dikembangkan di pesisir pantai selatan pulau Jawa adalah Teknologi Tapered Channel (Tapchan).
Balai Pengkajian Dinamika Pantai (BPDP), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBPT) Yogyakarta melalui riset sejak tahun 2003 telah mampu mengembangkan pemanfaatan energi gelombang laut sebagai sumber alternatif energi listrik, dengan menggunakan teknologi OWCS,BPDP-BPPT telah membangun prototipe di pantai parangracuk, Baron, Gunung Kidul, DIY dan berhasil memperoleh potensi daya sebesar 522 watt.
Kegiatan pengembangan dan penelitian teknologi pemanfaatan energi gelombang masih terus dilakukan oleh kalangan peneliti dan akademisi. Beberapa penelitian untuk meningkatkan daya pada sistem konversi energi gelombang laut jenis cavity resonator dengan memodifikasikan bentuk tabung silinderya. Hasil penelitian menunjukan bahwa apabila periode gelombang diperbesar, maka tekanan udara yang terjadi orifice (lubang kecil diatas tabung) menjadi cukup signifikan yaitu rata-rata sekitar 40 persen lebih besar dari sebelumnya. Selanjutnya jika tinggi gelombang diperbesar maka tekanan yang terjadi menjadi besar signifikan yaitu rata-rata sekitar 200 persen. Bagaimanapun juga pengembangan teknologipembangkitan listrik dari energi gelombang masih tertinggal 10 sampai 20 tahun di belakang pengembangan teknologi pembangkitan energi terbarukan lainnya seperti mikro hidro maupun surya.
Peningkatan efisiensi dan kapasitas pembangkitan harus terus dilakukan, sampai saat ini pemanfaatan energi gelombang yang sudah diaplikasikan di Indonesia baik oleh lembaga litbang (BPPT, PLN) maupun institusi pendidikannya lainya, baru pada tahap penelitian dengan kapasitas beberapa kW.
Energi pasang surut di wilayah Indonesia terdapat pada banyak pulau. Cukup banyak selat sempit yang membatasinya maupun teluk yang dimiliki masing-masing pulau. Hal ini memungkinkan untuk memanfaatkan energi pasang surut. Saat laut pasang dan surut aliran airnya dapat menggerakan turbin untuk membangkitkan listrik.
Sampai saat ini belum ada penelitian untuk pemanfaatan energi pasang surut yang memberikan hasil yang cukup signifikan di Indonesia. Negara-negara yang telah melakukan penelitian terhadap pemanfaatan energi pasang surut diantaranya Perancis, Rusia, Amerika Serikat, Kanada sejak tahun 1920.
Tidak jauh berbeda dengan energi pasang surut, energi panas laut di Indonesia juga baru mencapai tahap penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti. Berdasarkan pola arus di perairan Indonesia pada kondisi pasang purnama, saat pasang tertinggi dan pada kondisi pasang perbani, saat surut terendah, diketahui bahwa secara umum kecepatan arus yang ada tidak terlalu besar, kecuali pada daerah Selat Bali, Selat Lombok dan Selat Makassar.
Saat ini pemanfaatan arus laut untuk pembangkitan tenaga listrik sudah sampai pada tahap impelemntasi (pilot project) oleh Tim T-files dari ITB dan Dr. Erwandi dari Laboratorium Hidrodinamika Indonesia, BPPT dan BRKP Kementerian Kelautan dan Perikanan. Tim T-Files ITB telah merancang turbin hidrokintetik jenis gorlov helical dan saat ini telah berhasil diujicobakan di Nusa Penida, Bali pada akhir Juli 2009 dengan kapasitas 5 kW (bekerjasama dengan Balitbang KESDM). Sementara BPPT dan BRKP-KKP bekerjasama dengan PT.Kobold Nusa (perusahaan patungan antara Ponte di Archimede (PdA), Italia dan PT. Walinusa Energi, akan membangun turbin arus laut dengan kapasitas 20 kW di Selat Lombok dan diharapkan proyek ini akan selesai pada pertengahan tahun 2011. (ferial)















