Thursday, 17 May 2012

Last update03:27:01 AM GMT

You are here:: Energi Energi Terbarukan Bioenergi

Bioenergi

Teknologi Kompor Tungku Berkembang

E-mail Print PDF

EBTKE— Saat ini lebih dari 40 persen rumah tangga di Indonesia atau sekitar 25 juta rumah tangga masih menggunakan biomass sebagai bahan bakar pokok untuk memasak di wilayah pedesaan, termasuk pulau Jawa.Padahal menurut data badan kesehatan dunia (WHO), udara dalam ruangan yang tercemar oleh hasil pembakaran proses masak di kompor tungku mengakibatkan lebih dari 45000 kematian prematur setiap tahun di Indonesia.


Masih banyaknya rumah tangga di Indonesia yang menggunakan kompor tungku tradisional bukan hanya tidak efisien tetapi juga menghasilkan polutan yang tinggi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di berbagai negara berkembang World Bank memberikan ilustrasi kurangnya akses distribusi bahan bakar modern di daerah pedesaan menjadi sumber utama mengapa TSHE ini cocok untuk diperkenalkan dan mendorong penggunaannya.

Sebab kendati telah digalakkan program konversi minyak tanah ke elpiji namun kayu masih tetap menjadi bahan bakar favorit utama di delapan provinsi terutama di Indonesia bagian timur sebab program konversi minyak tanah ke elpiji masih terpusat di pulau Jawa.

Mulai saat ini selain untuk konsumsi rumah tangga, perlu juga diperhatikan penggunaannya di sektor selain rumah tangga dan juga industri. Berdasarkan survei yang dilakukan Yayasan Dian Desa (YDD) kayu bakar menjadi bahan bakar utama dikarenakan harganya yang murah, tersedia dekat rumah, gratis dan tidak ada pilihan bahan bakar lainnya. Tungku yang dipakai untuk memasak pun didapatkan dengan membeli ataupun membuat sendiri. Tungku yang mereka pakai adalah tungku tradisional yang menghasilakan banyak asap dan tidak efisien sehingga dapat menyebabkan polusi dalam ruangan.

Dengan dilatarbelakangi hal tersebut, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) bekerjasama dengan World Bank (WB) mendorong pengembangan kompor tungku sehat hemat energi (TSHE).

 Direktur Bioenergi, Maritje Hutapea menuturkan, dengan adanya TSHE ini diharapkan dapat mengurangi dampak negatif dari asap yang dihasilkan dari tungku konvensional.”Tungku konvesional seperti yang dijelaskan, banyak menyebabkan penyakit pernapasan,”katanya.

Jika dikaitkan dengan isu gender, sambung Maritje, pada tungku konvensional bahan baku kayu yang diperlukan banyak misal untuk sekali pakai satu ikat, namun dengan adanya tungku modern yang telah dikembangkan ini satu ikat kayu bisa digunakan untuk dua pekan.”Kebanyakan yang mencari kayu adalah wanita, waktu mereka banyak terbuang untuk mencari kayu, nah sekarang lebih punya banyak waktu untuk mengurus anak, menyulam atau yang lainnya,”papar Maritje.

Beberapa tantangan yang akan dihadapi untuk pengembangan TSHE ini adalah menemukan pemegang kunci utama implementasi ini, menemukan pasar. untuk mensuplai kompor sehat dan kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan kompor sehat dengan kesadarannya.

Salah satu pengembang kompor TSHE adalah Dosen Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya, Nurhuda. Kompor tungku ciptaannya dibuat lebih efisien dan ramah lingkungan dimana dalam proses pembakarannya, bahan bakar yang digunakan pada kompor tungku kreasinya yaitu bahan bakar terlebih dahulu mengalami proses gasifikasi. “Untuk pengembangan kompor ini memerlukan waktu 3 bulan,”katanya disela Lokakarya Konsultasi TSHE di Yogyakarta.

Dia mengusulkan kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) mengembangkan cook stove laboratory agar dapat menjadi patokan pengembangan tungki seperti standar dan implementasinya.

Sebelumnya, Nurhuda sudah berhasil menciptakan kompor berbahan baku cangkang kelapa sawit yang diberi nama Kompor UB-03-1.

Keunggulan kompor kelapa sawit terletak pada api yang tidak menghasilkan asap, hemat, dan pembakaran yang sempurna karena api berwarna biru. Cangkang kelapa sawit memberikan nyala api lebih biru dan bersih dibanding bahan bakar lain seperti kayu dan serasah daun.

Sebelum menciptakan Kompor UB-03-1, Nurhuda juga telah sudah menciptakan 3 kompor, yakni Kompor UB-01, UB-02, dan UB-03. Semua kompornya ini berbahan baku biomassa, seperti sampah organik, kayu, dan serasah.(ferial)



Page 1 of 60

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday2527
mod_vvisit_counterYesterday1900
mod_vvisit_counterThis week9835
mod_vvisit_counterLast week11964
mod_vvisit_counterThis month31011
mod_vvisit_counterLast month56685
mod_vvisit_counterAll days1751670

Tahukah Anda

Lahirnya Ditjen EBTKE Langkah Penting Bangsa
JAKARTA. Lahirnya Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) Kementerian ESDM merupakan langkah penting bagi bangsa dalam upaya percepatan pengembangan energi baru, terbarukan dan konservasi energi di Indonesia. 

“Peristiwa hari ini adalah peristiwa yang menandai langkah penting bagi Indonesia, langkah penting bagi sektor ESDM. Energi ke depan adalah energi yang baru dan terbarukan, tapi sejak sekarang kita bisa memulainya dengan ..selengkapnya